• 08115699900
  • cukk93@gmail.com

Hanya sekitar 2 jam tidur pada tanggal 22 Januari 2019, saya berangkat menuju SP 6. Pukul 09:00 Pra RAT di sana.

Pada tanggal 21, pukul 06:00 sore pulang ke Sintang dari TP. Sungai Kura. Namun belum sampai di Begandong, ketika mendaki di jalan berlumpur, mobil kami terbenam. Enam jam mobil masuk dalam lumpur. Maju tak bisa, mundur juga demikian. Lumpuh total. Rasanya seperti tak ada gunanya Hilux double gardan itu. Pukul 02 tanggal 22 Januari 2019 baru bisa keluar setelah Hillux kami ditarik Strada yang melansir kulat. Dua ratus ribu rupiah melayang. Betapa besar biaya yang harus ditanggung para anggota di sana akibat jalan serusak itu.

Berita baiknya¾tahun 2019 ini,  jalan ke Lubuk Lantang pasti mulus. Mobil Agya dan Ayla bisa masuk, apa lagi avanza, xenia, Rush, Terios, Innova, dan Fortun. Lantaran Pemda Sintang akan mengalirkan air bersih dari Bukit Saran ke kota Sintang. Bro... air sungai Kapuas benar-benar tercemar. Berapa penduduk Sintang harus bayar air yang dijaga oleh peduduk sekitar bukit Saran secara turun temurun? Jalan mulus ditukar air bersih? Apakah warga desa yang dilewati pipa raksasa yang mengalirkan air ke Sintang bisa tinggal membuka kran di dapur dari air itu? Mana tahu?

Tapi untunglah! Tiba di Sintang Pukul 03:15 subuh. Langsung tidur.

Uhh...! Tidur di Hotel Ladja. Hotel milik sendiri. Nyenyak....

                Pukul 06:00 tanggal 22, kami berangkat dari Sintang menuju SP 6. Mataku masih beluntap. Aku masih bisa memejamkan mata dari Sintang sampai Simpang Penyangkak. Di situ belok kiri masuk jalan sawit. Kiri kanan banjir. Ada jalan berkilo-kilo meter lurus. Jalan itu licin dan becek. Di sana sini lobang. Tadi malam hujan lebat sekali.

                Dalam kondisi hujan, jalan desa sering diportal. Harus menunggu pukul 10, baru dibuka dan kendaraan boleh lewat. Itupun kalau sinar matahari sudah mampu mengeringkan jalan kuning itu.

                Sudah lama saya tidak keluar masuk kampung, sejak lima tahun lalu. Pada 2013 saya pensiun dari CUKK, setelah hampir 25 tahun mengabdi kepada akar rumput. Pada 2019 ini, Valen meminta saya untuk mengikuti Pra RAT: Putusibau, Sungai Kura, SP 6, Simpang Pinoh, dan Kedemak Air Tabun. Itu jatah saya. Sudah merasa tua, usia hampir 56, tak sanggup lagi masuk kampung keluar kampung seperti dulu.

                Memasuki gerbang desa Mangkurat baru, jalan benar-benar diportal. Si penguasa, kurus tinggi, dengan logat Jawa kuno, tak bersedia negosiasi. Valen dan Asoi mencoba membujuk. Seribu alasan disampaikan, atas nama Keling Kumang juga, orang yang kurus seperti tiang listrik itu bergeming.

                Rupanya dibalik sang penguasa portal itu adalah rekan seperjuangan selama bertahun-tahun, pak Manggris. Tau kalau kami sangkut disitu, ia bergegas ganti pakaian, hanya dengan celana pendek dan baju kaos, lalu menstater sepeda motor yamaha 2 tax¾besepau. Berkat sinyal telkomsel satu balok, pasti. Pak Manggris turun dari motor, si kurus itu memberi hormat. Maaf ya pak? Ia bergegas membuka portal. Ini tanah Dayak bung, kataku dalam hati. Kami telah berjuang memberdayakan masyarakat melalui CUKK selama 26 tahun. Apa yang kurang?

Kepala suku CUKK di wilayah ini, ya pak Manggris.

Kopi, teh? Tanya isteri pak Manggris. Kami singgah di rumahnya yang mungkin salah satu paling megah di situ. Ini berkat CUKK pak. Mana mungkin kondisi saya begini tanpa CUKK. Sama dengan saya pak, kataku.

Kami tak bisa lama bu, kata Valen kepada Bu Manggris. Aku teh, kataku. Aku lupa kalau itu teh manis dengan gula rafinasi. Kadar gulaku sudah menunggu untuk terbang ke langit. Aku bisa pingsan. Tapi, sebutir gula penurun darah, Renabetic 5 mg, sudah bersarang di darahku. Aman...

Salah satu hasil yang aku dapat selama keluar masuk kampung selama hampir 25 tahun adalah gula darahku itu. Saban hari gonta ganti minum, kalau bukan kopi, ya teh. Sering kali kopi. Pahit menjadi manis. Enak... tapi pankreasku yang bertugas menjaga kadar gulaku jatuh pingsan. Saban hari aku berdoa kepada Bunda Maria agar pankreas ku pulih. Di Lourdes, Prancis, aku katakan semuanya kepada Bunda Suci yang pernah menampakkan diri di sana. Doaku, aku mati menjelang usia 70 tahun. Selama perjalanan menuju tahun tersebut, aku sehat. Jadi, aku masih bisa melihat KKG berjaya di atas tanah kelahiranku.

Kami tiba di rumah Pak Amolin, penerima Member of The Year 2012¾Tahun Buku 2011. Award ini adalah ide ku pada waktu itu. Rasa tak percaya, keluarga ini dulu begitu payah secara ekonomi, payus. Siapa nyangka setelah masuk CUKK, perubahan seperti langit dan bumi. Aku ditawari makan. Ini kesempatanku melihat jauh ke dalam rumah. Apakah kondisi di dapur, wc, dll., semegah ruang tamu dan bagian depan rumah? Ya ampun.... aku bangga atas karyanya dan karya kami memberdayakan masyarakat. Andaikan semua anggota secerdas Amolin dalam mengelola keuangan dan sumber daya  yang dia miliki, seperti tanah. Dikelilingi transmigran, membuat banyak warga pribumi tersisih, mungkin frustrasi. Aku risih memikirkan hal ini.... Semakin terbuka wilayah kita, kita nampaknya semakin tersisih. Mengapa ya? Apakah itu kutukan bagi suku pribumi seperti yang penah saya dengar? Tidak... agik idup agik ngelaban.

Kataku kepada para anggota yang hadir di Pra RAT itu, yang hadir 400-an. Di bawah Logo CUKK ada tulisan keren: Member-TBL- Enteprener. Bapak ibu tahu? Tak ada jawaban. Itu bahasa dari langit. Bahasa nenek moyang Ratu Victoria dari Inggris, bukan?

Tak apa kita lahir miskin, tapi mati miskin adalah kebodohan. Anggota diam. Kalimat itu pasti mendarat seperti bom di kepala mereka. Yang umurnya sudah tua, tapi masih merasa miskin pasti yang pertama tersinggung. Apa kurangnya, CUKK di kaki tangga kalian... Simpan pinjam itu urusan belakang, tapi membetulkan pola pikir yang salah adalah yang utama. Ikuti pendidikan CU, kataku. Hanya pendidikan yang mampu merubah pola pikir kita yang sudah tegeran alias berkarat. Pak Manggris dan pak Amolin sudah memberikan contoh nyata. Ikuti jalan mereka.

Pak Manggris protes. Ia nampak tegang. Promosi berlebihan, katanya. Jangan saya yang dijadikan contoh pak, katanya merendah dari tempat duduk depan. Suaranya terdengar diantara suara-suara berisik lainnya.

Tidak... Tidak... bapak berdua sudah menjalankan sungguh-sungguh apa yang sudah diajarkan oleh CU. Jika kita mengikuti jalan orang fasik alias orang salah, kita akan tersesat. Mimpi-mimpi kita tak pernah menjadi kenyataan, hanya akan bersama anda sampai ke liang kubur.

Ampun....!

Jadi, Member-TBL-Enteprener itu artinya anggota (member) dididik berbasis TBL (Triple Bottom Line – Keuangan, Sosial, dan Lingkungan) agar pola pikirnya berubah, lalu bersama CU ia menjadi enteprener (pengusaha atau pedagang). Tanah-tanah kita dimanfaatkan, jangan dijual. Tanah-tanah itulah yang akan membawa anda menjadi kaya, sejahtera, berada. Terbang tinggi melintasi benua. Kalau bukan anda ya anak-anak anda kelak.

Tanpa perubahan pola pikir anda di kampung akan semakin miskin.

Mau belajar menjadi pengusaha atau pedagang, ikutilah program CU dalam SHG (Usaha Produktif Kelompok) atau SHI (Usaha Produktif Individu). Sekarang, SHG dan SHI akan menjadi tulang punggung CUKK dalam mensejahterakan anggota dan menurunkan tingkat kemiskinan. Dua puluh tahun yang akan datang..... lampu-lampu dan pohon pohon natal akan menerangi seluruh kota dan desa pada bulan Desember. Seluruh isi alam ikut bernyanyi dan bersuka cita bersama kita. Itulah tanda-tanda keberhasilan.

Apakah kata-kataku sekasar petir dan halilintar? Semogalah tidak...

Betungkat ke adat basa, bepegai ke pengatur pekara.... []        

Share This