• 085345344887
  • cukk93@gmail.com

Maria Katarina adalah anggota Tameng CUKK BO Sintang. Ibu 3 anak ini mengenal CUKK dari anak temannya yang merupakan salah satu staff di CUKK dan bertugas di BO Sintang saat itu, namun ia lupa mengingat namanya.

Perempuan yang akrab disapa Maria masuk sebagai anggota pada tanggal 28 September 2011. Produk pinjaman menjadi salah satu daya tarik bagi dirinya. Walaupun sebelumnya telah mengenal CU lain, namun baginya CUKK menjadi prioritas.

Maria pernah mengikuti satu kali pendampingan yang diberikan oleh pihak CUKK Sintang. Melalui pendampingan, ia telah menggunakan fasilitas kredit sebanyak 18 kali mulai dari masuk menjadi anggota sampai sekarang. Riwayat pinjamannya pun baik.

Desa Pakak menjadi tempat kelahiran Maria Katarina. Ia adalah seorang pedagang di Pasar Inpress Sintang. Ia menjual sayur-mayur lokal dan bumbu dapur. Sayur didapat dari teman-teman yang membeli sayur dengan kuota besar. Sedangkan bumbu dibeli dari salah satu agen toko di Sungai Durian, yang telah menjadi langganannya.

Modal awal berdagang didapat dari hasil panen cabe di Pakak. Maria tak pernah meminjam dari keluarga, sahabat, atau tetangga. Baginya berdagang dari dana sendiri, akan terasa lebih bermakna. Setelah itu, ia dan suaminya memberanikan diri menggunakan fasilitas kredit dari CUKK.

Apakah ada kesulitan yang dihadapi saat berdagang? Tentu saja ada. Harga kadang kala berubah dan sayur-mayur tak dapat bertahan lama. Maria mensiasati kesulitan tersebut agar dapat mempertahankan keuntungan. Sayur yang sudah hampir layu, dapat dibawa pulang untuk menu makan di rumah.

Perempuan berambut pendek ini memiliki jam sibuk mulai pukul 05:30 WIB sampai 18:00 WIB. Rumah Maria berada di seberang Sungai Kapuas, tak jauh dari wisata Keraton Melayu Sintang. Jarak tempuh berkisar 20 menit dari rumah menuju Pasar Inpress. Ia diantar jemput oleh suami atau anak bungsunya, karena Maria tak dapat mengendarai motor.

Perempuan lulusan SD ini sadar bahwa keuntungan pada awal berdagang tak lagi sama untuk beberapa tahun belakangan. Persaiangan yang tajam dan perputaran ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Namun, ia tak mau menyerah.

Maria sebelumnya pernah berdagang sembako di kampung halamannya. Semangat berdagang membawanya untuk berdagang di Sintang pada tahun 2002. Mereka mengontrak rumah selama 1,5 tahun sebelum memiliki rumah sendiri di Sintang.

Suami Maria yaitu Yohanes Sila adalah pria yang berasal dari desa yang sama dengan Maria. Pekerjaannya adalah petani. Mereka menikah pada tahun 1990 dan memiliki 3 anak, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Saat ini mereka tinggal ditemani si bungsu.

Kurnelia anak pertama Maria adalah lulusan dari STKIP Sintang, kemudian melamar sebagai honorer di salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Melawi. Kurnelia menikah dengan seorang pria yang berasal dari Kecamatan Menukung. Suaminya berprofesi sebagai PNS.

Flavianus Razak adalah anak kedua dari pasangan Maria Katarina dan Yohanes Sila. Jember menjadi kota yang dipilih Flavianus Razak untuk mencari nafkah. Dia mengambil jurusan elektromedik saat kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang.

Anak ketiganya menjalani pendidikan di kelas 3, di SMA Negeri 3 Sintang. Maria Katarina dan Yohanes Sila berharap anak bungsunya akan seperti 2 kakaknya, yakni sampai tingkat perguruan tinggi. Mereka ingin Flonia Sevaeviani kuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di Pulau Jawa. Kiranya dapat terwujud dengan berkat yang Tuhan titipkan pada mereka.

Saat ditanyakan apakah akan memulai usaha lain, Maria menjawab dengan senyuman. Baginya sudah cukup. Mereka akan fokus pada 200 pohon karet di Pakak yang saat ini dikerjakan kenalannya. Bahkan suaminya sedang mengurus kebun ladanya yang ada di Sintang.

Isteri dari Yohanes Sila adalah perempuan yang tangguh dengan aktivitasnya. Perannya sebagai isteri, ibu, sekaligus sebagai pencari nafkah kedua dalam keluarga. Ia bangga bahwa anak-anaknya mencapai pendidikan yang lebih tinggi dari ke dua orang tuanya.

Bila dipikirkan, apa kelebihan Maria sehingga dapat mewujudkan semuanya? Ia dan suaminya hanyalah lulusan Sekolah Dasar. Semangat untuk belajar dan rasa tanggung jawab menjadi kekuatan mereka. Tak ada yang tak mungkin bila manusia terus berusaha.

Bila pembaca berdomisili di Sintang atau pun sesekali berkunjung ke Sintang, tak ada salahnya untuk membantu Maria dengan membeli hasil dagangannya, baik berupa sayur atau pun bumbu. Tidak hanya itu pembaca pun dapat bertukar pengalaman bersama.

Gambaran Maria di Kitab Suci menginspirasi bagi Maria-maria lainnya. Salah satunya adalah Maria Katarina kelahiran Pakak, 24 Agustus 1972. Perempuan bukan hanya dikenal sebagai gender, tapi karakter dan perbuatan yang memberi dampak luar biasa. Semoga   tulisan ini berkenan dan menjadi motivasi bagi perempuan yang sedang berjuang. Salam Invictus!

Share This